Pengertian CLTC, WLTP, NEDC & EPA Pada Kendaraan Listrik

Worldwide Harmonized Light Vehicle Test Procedure (WLTP)
Source : WLTPfact.eu

Perkembangan kendaraan listrik alias electric vehicle (EV) saat ini menunjukkan seperti apa rupa masa depan dunia otomotif nantinya. Dan bicara soal kendaraan listrik, Anda juga tidak bisa lepas dari bahasan mengenai tes kendaraan listrik, yang juga biasa disebut dengan istilah range test.

Pentingnya Tes Kendaraan Listrik

Bahkan, dalam dunia kendaraan listrik yang namanya range test memiliki peran krusial. Soalnya, hasil range test kendaraan listrik secara garis besar menunjukkan berapa jarak tempuh maksimal sampai akhirnya baterai kendaraan harus kembali diisi ulang.

Oleh karena itu, tak heran jika angka yang ditunjukkan oleh hasil tes kendaraan listrik juga menentukan keputusan pembelian penggunanya. Apalagi, pada dasarnya kendaraan listrik hanya bisa menempuh sekitar setengah total jarak tempuh kendaraan berbahan bakar minyak sebelum baterainya harus diisi ulang. Dan saat ini, jumlah SPBU untuk bahan bakar minyak (BBM) jelas lebih banyak dibandingkan jumlah stasiun pengisian daya baterai kendaraan listrik.

Kalau begitu, apa saja ya jenis range test untuk kendaraan listrik yang berlaku? Secara umum, terdapat 4 (empat) jenis tes yang akan dibahas lebih lanjut dalam ulasan di bawah ini. Keempatnya adalah Environmental Protection Agency (EPA), Worldwide Harmonised Light Vehicle Test Procedure (WLTP), New European Driving Cycle (NEDC), dan China Light Duty Vehicle Test Cycle (CLTC).

Dari keempat jenis range test tadi, rating EPA biasanya yang dijadikan sebagai standar. Pasalnya, hasil rating EPA disepakati sebagai hasil test range yang paling akurat untuk diakses secara online. Akurasi tersebut dipengaruhi oleh siklus tes yang realistis sehingga hasilnya bisa menunjukkan penggunaan kendaraan listrik yang sesungguhnya di dunia nyata.

Sementara itu, WLTP biasa digunakan oleh produsen kendaraan otomotif dari Eropa dan dinilai memiliki akurasi sekitar 80 sampai 90% ketika dibandingkan dengan hasil tes kendaraan listrik sesungguhnya di dunia nyata. Sementara itu, hasil range test NEDC dan CLTC cenderung mencantumkan hasil angka yang lebih besar daripada yang seharusnya, sehingga bisa mengakibatkan misinformasi di kalangan pengguna kendaraan listrik.

Dan untuk memahami keempat jenis range test untuk kendaraan listrik tersebut, beserta perbedaan di antara keempatnya, silahkan simak kelanjutan artikel ini. Selamat membaca!

Environmental Protection Agency (EPA)

Environmental Protection Agency (EPA)Secara garis besar, tes EPA menunjukkan estimasi atau perkiraan jarak yang bisa ditempuh oleh sebuah kendaraan listrik baik di jalanan dalam kota maupun jalan raya bebas hambatan, sebelum baterai kendaraan harus diisi ulang. Dalam pengujiannya, komposisi yang digunakan adalah 55% jalan raya dan 45% jalan dalam kota.

Untuk proses tes kendaraan listrik yang satu ini, terdapat metodologi yang diterapkan. Pertama, kendaraan akan diisi sampai penuh lalu diparkir dan didiamkan selama semalam. Keesokan harinya, kendaraan akan dikemudikan di atas dinamometer, yang menyerupai treadmill tapi untuk mobil.

Dinamometer yang digunakan tersebut dikombinasikan dengan simulasi rute dalam kota maupun jalan bebas hambatan sampai baterai kendaraan listrik yang sedang diuji habis. Total jarak yang ditempuh tadi kemudian dikalikan dengan correction factor yang sudah ditetapkan oleh EPA agar hasilnya bisa menunjukkan angka yang lebih akurat dengan kondisi sesungguhnya di dunia nyata.

Lalu, berapa besar correction factor tersebut? Angka yang ditetapkan biasanya selalu kurang dari 1, tapi lebih besar dari 0. Dan angka yang digunakan ditentukan oleh jumlah siklus berkendara dari kendaraan yang diuji.

Dan dalam tes EPA, baterai akan diisi ulang kembali menggunakan charger yang disediakan oleh produsen kendaraan listrik tersebut begitu baterainya habis.

Dan besar energi yang dikonsumsi kemudian ditentukan secara matematis dari energi pengisian ulang, data penggunaan energi yang dicatat oleh kendaraan, dan jarak yang ditempuh di setiap siklus.

Energi pengisian ulang tersebut juga termasuk penurunan yang disebabkan oleh inefisiensi pada charger dari produsen kendaraan.

Worldwide Harmonized Light Vehicle Test Procedure (WLTP)

Worldwide Harmonized Light Vehicle Test Procedure (WLTP)
Source : WLTPfact.eu

Pasca skandal Dieselgate oleh Volkswagen (VW) pada tahun 2015 silam, Uni Eropa memutuskan untuk memperkenalkan sebuah prosedur tes kendaraan listrik baru yang disebut sebagai Worldwide Harmonized Light Vehicle Test Procedure (WLTP).

Nah, WLTP sendiri merupakan “penerus’ New European Driving Cycle (NEDC), yang dikembangkan pada tahun 1970an dan akan dibahas lebih lanjut pada bagian berikutnya. Yang pasti, penerapan WLTP ini juga disebabkan oleh hasil tes NEDC yang sudah usang dan tidak merefleksikan hasil sesungguhnya, terutama soal penggunaan daya baterai dan pengukuran rentang-nya.

WLTP sendiri terbukti dan dinilai mampu memberikan hasil tes kendaraan listrik yang lebih mendekati angka sesungguhnya saat kendaraan dibawa melaju di jalanan. Apabila dibandingkan dengan NEDC, angka pengukuran konsumsi energi yang ditunjukkan oleh WLTP 20% lebih tinggi, dan selisih tersebut disebabkan kondisi pengujian untuk tes WLTP yang jauh lebih realistis daripada NEDC.

Dalam proses pengujian menggunakan tes WLTP, siklus berkendara yang diterapkan lebih panjang. Ditambah lagi, kondisi pengujiannya juga mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat terjadi di dunia nyata, seperti penggunaan air conditioning dan barang elektronik di dalam kendaraan. Tak hanya itu saja, WLTP juga mengukur angka konsumsi dari range kecepatan yang lebih luas, yaitu berkisar dari 29 sampai 82 mph.

Meski begitu, bukan berarti tes WLTP aman dari masalah. Pasalnya, siklus tes kendaraan listrik dengan tes WLTP ini dilakukan dalam lingkungan yang temperaturnya dikontrol dengan ketat. Mengingat bahwa kendaraan listrik cenderung menurun skor range-nya ketika digunakan untuk berkendara dalam kondisi cuaca dingin, hasil estimasi menggunakan tes WLTP ini jadi terlihat lebih tinggi. Dan masalah ini sebenarnya bisa dibenahi dengan menyertakan siklus berkendara dalam cuaca dingin dalam proses tesnya.

New European Driving Cycle (NEDC)

New European Driving Cycle (NEDC)Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, NEDC merupakan metode range test untuk kendaraan listrik yang diberlakukan oleh Uni Eropa sebelum akhirnya digantikan oleh WLTP pada tahun 2015. Tes NEDC sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Uni Eropa pada tahun 1992 sebagai standar bagi seluruh kendaraan berpenumpang dan kendaraan komersial ringan, dan bertujuan untuk menyediakan nilai atau skor yang dapat dibandingkan untuk konsumsi bahan bakar.

Secara garis besar, tes NEDC secara resmi menggabungkan hasil angka yang diperoleh hanya dengan mengemudikan kendaraan sejauh 6,8 mile dalam kecepatan rata-rata 29,1 mph di dalam lokasi tes, yang biasa disebut sebagai laboratorium dalam tes kendaraan listrik. Oleh karena itu, tak heran kalau hasil konsumsi daya yang ditunjukkan lewat tes NEDC ini tidak sesuai dengan realitanya.

Sedangkan dalam proses pengujiannya, angka yang ditunjukkan lewat tes NEDC dihitung dengan menjalankan tes simulasi berkendara di kota dan kota besar. Angka yang dikombinasikan tersebut merupakan rata-rata antara hasil tes simulasi berkendara di kota dan hasil tes simulasi berkendara di kota besar.

Dalam proses pengujiannya, kipas dan kompresor air conditioning, lampu, radio, maupun fitur-fitur lainnya dinonaktifkan. Di samping itu, mobil listrik juga sudah harus dikemudikan selama minimal 1.800 mile sebelum tes kendaraan listrik dilakukan.

Tak hanya itu saja, titik tuas transmisi, akselerasi, serta kecepatan tetap dalam proses pengujian memungkinkan pabrikan untuk melakukan “cycle beating” dengan tujuan mengoptimalkan performa emisi kendaraan yang berkaitan dengan poin operasional dalam siklus tes.

China Light Duty Vehicle Test Cycle (CLTC)

Tabel China Light Duty Vehicle Test Cycle (CLTC)
Contoh tabel Tabel China Light Duty Vehicle Test Cycle (CLTC)

Jenis range test untuk kendaraan listrik berikutnya adalah China Light Duty Vehicle Test Cycle (CLTC). Kemunculan jenis tes ini sendiri disebabkan karena produsen asal Cina menjadi satu- satunya yang masih menggunakan NEDC sebelumnya — produsen Amerika Serikat menggunakan rating EPA, sementara produsen Jepang dan Eropa menggunakan standar rating WLTP.

Standar CLTC ini diklaim memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan NEDC, dan memiliki 3 (tiga) fase pengujian: slow, medium, dan fast. Proses pengujiannya sendiri berlangsung selama 30 menit, di mana mobil melaju kira-kira sejauh 14,5 km. Dan CLTC ini bisa dianggap sebagai standar WLTP-nya produsen kendaraan listrik di Cina.

Meski demikian, masih ada beberapa perbedaan signifikan antara kedua jenis tes kendaraan listrik tersebut. Salah satunya adalah durasi diam kendaraan selama proses pengujian berlangsung untuk konsumsi energi, di mana durasinya dua kali lipat lebih lama dalam tes CLTC dibandingkan NEDC. Di samping itu, kendaraan juga berhenti lebih banyak dalam proses tes CLTC dibandingkan tes WLTP, plus batas kecepatan yang lebih rendah yaitu 114 km per jam.

Itu tadi rangkuman penjelasan mengenai keempat jenis tes kendaraan listrik. Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *